Jumat, 08 Maret 2013

Angkasa

Aku berdiri, terbalik.

Sebenarnya pun tak tahu arah kemana aku ini.
Tak ada tarikan, Tak ada udara.

Gelap.
Dingin.
Aku memakan nafasku sendiri.

Ketika kalian tersadar, ini semua begitu besar, mengapa aku aneh sendiri?
Aku heran.. kalian seolah begitu tahu semuanya.

Sempit.
Dalam keluasan.

Aku tidur. Terbalik.

Padahal kuyakin disini tak ada arah.

Jadi, tak perlu kan aku yakin?
Karena semua menjadi ragu.
Karena semua menjadi semu.

tapi satu, ada seorang insinyur di alam ini.

Aku sedang mencoba menyentuh jari-jariku.

Usang

Kamu usang.
Kamu terpinggirkan.

Kalian menang.
Tertawa dalam pesta malam.

Kamu menjadi diriku.
Sebenarnya telah lama itu diriku.
Diriku yang tertipu dan tak kenal kamu,
Hanyalah kamu yang usang ditambal topeng yang tebal.

Kalian berkumpul, menjadi satu.
Kalian tidak tahu. Apa itu kamu.
Apa itu aku.
Kalian tahu kulit. Kalian tak tahu hati.

Sebentar kupergi, kukuliti topeng ini.
Aku tersadar, sosialku bukan disini.

Aku usang,
Aku meminggirkan.