Sabtu, 08 Desember 2012

Orang Pertama

Pernahkah kau menyadari..
Kau hanya sesuatu yang menempel di materi fisik ini?
Jiwa..

Tubuhmu hanya sementara.
Bahkan kau tidak bisa yakin dan percaya tubuhmu.
Begitu juga denganku.

Pandanglah cermin..
Kau yakin itu dirimu?
Dengan kulit, dan rambut..
Aku tidak begitu memahami fisik ini..

Apakah kamu?
Apakah aku?

Dingin..

Ketika kamu berpikir itu ada, maka itu ada.
Ketika kamu berpikir itu tidak ada, maka itu tidak ada.

Kosong

Sepi

Sunyi

Hanya kamu,

Dan hatimu yang berbicara.

Kamis, 06 Desember 2012

Faith

Aku masih belum bisa sepertinya yang mempercayai itu. Aku ingin, tapi aku belum bisa meyakini.. Aku butuh, peyakinan dari hal itu. Agar aku dapat memahami seutuhnya. Bukan karena paksaan maupun untuk pencitraan.

Aku bukan tak mencari Nya, aku hanya ingin merasakan sesuatu hal yang kau rasa. Kadang aku iri bagaimana bisa kau dengan khusuk nya melakukan itu. Aku ingin. Tapi rasanya hatiku telah beku.

Apakah ternyata ini semua lebih luas dari jangkauan pengetahuan kita? Ku rasa itu iya.
Aku mempercayai kehadirannya, walau cara kita berkomunikasi berbeda.

ketahuilah bahwa ia menerima kita seutuhnya.
Kepada yang berbicara padanya,
kepada yang memberi keluh kesah padanya.
Dan kepada mereka yang memegang namanya sebagai tumpuan hidupnya.

Aku adalah mereka.
Aku adalah.. hambanya.

Senin, 03 Desember 2012

Mengontrol Mimpi

Belakangan ini kurasa aku mulai bisa mengontrol kendali atas mimpi-mimpi yang kudapat. Contohnya seperti pagi tadi. Sempat ku terbangun beberapa kali. Dan disaat terbangun itu mimpiku ter 'disconnect'. Tetapi disaat ku kembali mencoba tidur, aku selalu berhasil menyambungkan kembali jalan cerita mimpiku. Entah apakah itu memang biasa orang lain bisa lakukan juga, namun yang kurasa hal ini memang menyenangkan. Seperti pengalaman kisah dalam film Inception, bertualang dalam mimpi. Aku kini mengalaminya, dengan kenyataan.

Bagiku, mimpi adalah pelepas penat dunia nyata. Kadang, di kenyataan ini adalah semu, hingga kamu merasa bahwa dalam mimpi kamu lebih nyata. Aku selalu mensakralkan mimpiku. Mimpiku adalah dunia lainku. Dimana ku bisa memanipulasi setiap penglihatanku, bagaimana jalan ceritaku, dan akhir dari mimpi-mimpiku.

Aku dalam mimpi, adalah penguasa duniaku.